100 FUNGSI, JENIS & CONTOH SOROTAN KAMERA

100 FUNGSI, JENIS & CONTOH SOROTAN KAMERA

Berikut adalah100 sorotan kamera (camera shots) dan fungsinya dalam produksi film, video, dan fotografi, disusun secara komprehensif dalam bahasa Indonesia yang kami himpun dari berbagai sumber yang dapat pdipercaya.


Berdasarkan Jarak (Shot Size)  

1.Extreme Wide Shot (EWS) : Menampilkan subjek sangat kecil dalam lanskap luas; berfungsi memperkenalkan lokasi dan suasana.

2.Very Wide Shot (VWS) : Subjek terlihat jelas tapi masih dikelilingi lingkungan; menetapkan konteks tempat.

3.Wide Shot (WS) / Long Shot : Menampilkan seluruh tubuh subjek dari kepala hingga kaki; menunjukkan hubungan subjek dengan ruang sekitar.

4.Full Shot : Mirip wide shot, fokus pada keseluruhan postur tubuh karakter.

5.Medium Long Shot (MLS) : Memotong tubuh dari lutut ke atas; keseimbangan antara ekspresi dan gerakan tubuh.

6.Medium Shot (MS) : Memotong tubuh dari pinggang ke atas; ideal untuk dialog dan interaksi.

7.Medium Close-Up (MCU) : Memotong dari dada ke atas; menonjolkan ekspresi wajah tanpa kehilangan konteks tubuh.

8.Close-Up (CU) : Hanya wajah atau objek kecil; memperkuat emosi dan detail penting.

9.Extreme Close-Up (ECU) : Detail sangat spesifik (mata, bibir, jam tangan); menciptakan intensitas atau simbolisme.

10.Big Close-Up (BCU) : Lebih ekstrem dari close-up; fokus pada bagian wajah tertentu untuk dramatisasi.

11.Choker Shot : Memotong tepat di bawah dagu hingga atas kepala; transisi antara MCU dan CU.

12.Cowboy Shot : Memotong dari paha ke atas (berasal dari film koboi); menunjukkan senjata di pinggang sekaligus ekspresi.

13.American Shot : Mirip cowboy shot; berasal dari film Barat Amerika untuk menampilkan senjata dan postur.

14.Knee Shot : Memotong dari lutut ke atas; variasi medium shot untuk dinamika visual.

15.Bust Shot : Memotong dari dada ke atas; fokus pada ekspresi dan bahasa tubuh bagian atas.


Berdasarkan Sudut Kamera (Camera Angle)  

16.Eye-Level Shot : Kamera sejajar mata subjek; menciptakan kesan netral dan natural.

17.High Angle Shot : Kamera dari atas menghadap ke bawah; membuat subjek terlihat lemah, kecil, atau rentan.

18.Low Angle Shot : Kamera dari bawah menghadap ke atas; membuat subjek terlihat dominan, kuat, atau mengintimidasi.

19.Bird's-Eye View : Kamera tepat di atas subjek (90°); memberikan perspektif unik dan abstrak.

20.Worm's-Eye View : Kamera dari permukaan tanah menghadap ke atas; dramatisasi ekstrem kekuatan subjek.

21.Dutch Angle / Canted Angle : Kamera dimiringkan; menciptakan ketegangan, kekacauan, atau disorientasi.

22.Overhead Shot : Mirip bird's-eye view; sering digunakan untuk adegan simetris atau koreografi.

23.Tilted Shot : Variasi dutch angle dengan kemiringan halus; menunjukkan ketidakseimbangan psikologis.

24.Shoulder-Level Shot : Kamera setinggi bahu; perspektif intim namun tidak terlalu personal.

25.Knee-Level Shot : Kamera setinggi lutut; perspektif anak-anak atau sudut tidak biasa.


Berdasarkan Gerakan Kamera (Camera Movement)  

26.Pan (Panorama) : Kamera berputar horizontal di tripod; mengikuti aksi atau memperkenalkan lokasi.

27.Tilt : Kamera bergerak vertikal di tripod; mengikuti objek naik/turun atau menunjukkan ketinggian.

28.Dolly In : Kamera mendekat ke subjek menggunakan rel; memperkuat fokus emosional.

29.Dolly Out : Kamera menjauh dari subjek; menciptakan kesan penarikan diri atau kesepian.

30.Tracking Shot / Dolly Shot : Kamera bergerak mengikuti subjek secara lateral; menciptakan imersi.

31.Crane Shot : Kamera di boom/krane bergerak vertikal; transisi dari detail ke lanskap luas.

32.Boom Up/Down : Gerakan kamera naik/turun menggunakan boom; perubahan perspektif dramatis.

33.Zoom In : Lensa memperbesar subjek tanpa perpindahan fisik kamera; fokus cepat pada detail.

34.Zoom Out : Lensa memperkecil subjek; mengungkap konteks lebih luas secara bertahap.

35.Pedestal Up/Down : Seluruh tripod kamera naik/turun; perubahan ketinggian halus.

36.Arc Shot : Kamera bergerak melingkar mengelilingi subjek; menunjukkan multidimensi karakter/objek.

37.Whip Pan : Pan sangat cepat hingga gambar blur; transisi dinamis atau efek disorientasi.

38.Whip Tilt : Tilt sangat cepat; efek serupa whip pan dalam arah vertikal.

39.Handheld Shot : Kamera dipegang tangan; menciptakan kesan dokumenter, gugup, atau realistis.

40.Steadicam Shot : Kamera stabil meski bergerak; gerakan halus dalam adegan dinamis.

41.Gimbal Shot : Menggunakan gimbal untuk gerakan stabil 360°; ideal untuk adegan aksi.

42.Crab Shot : Kamera bergerak menyamping seperti kepiting; variasi tracking shot.

43.Truck In/Out : Kamera bergerak mendekat/menjauh secara lateral; variasi dolly.

44.Push In : Kombinasi dolly in + zoom out; efek vertigo (contoh: teknik Hitchcock).

45.Pull Out : Kombinasi dolly out + zoom in; efek sebaliknya dari push in.


Sorotan Subjektif & Perspektif  

46.Point-of-View Shot (POV) : Menunjukkan apa yang dilihat karakter; menciptakan empati penonton.

47.Subjective Shot : Mirip POV tapi lebih interpretatif; menunjukkan persepsi karakter.

48.Objective Shot : Perspektif netral pengamat; tidak terikat sudut pandang karakter.

49.Over-the-Shoulder Shot (OTS) : Kamera di belakang bahu satu karakter menghadap karakter lain; dasar adegan dialog.

50.Single Shot : Hanya satu karakter dalam frame; fokus pada individualitas atau isolasi.

51.Two-Shot : Dua karakter dalam satu frame; menunjukkan hubungan atau konflik.

52.Three-Shot : Tiga karakter dalam frame; dinamika kelompok kecil.

53.Group Shot : Banyak karakter dalam frame; adegan keramaian atau komunitas.

54.Reaction Shot : Fokus pada reaksi karakter terhadap aksi di luar frame; membangun emosi.

55.Eyeline Match : Menyambungkan pandangan karakter dengan objek/target; membangun koneksi visual.


Sorotan Khusus & Teknik Sinematik  

56.Establishing Shot : Wide shot di awal adegan; memperkenalkan lokasi dan waktu.

57.Master Shot : Satu take keseluruhan adegan dari jarak jauh; menjadi tulang punggung editing.

58.Insert Shot : Close-up detail objek penting (jam, surat); memberikan informasi kunci.

59.Cutaway Shot : Gambar terkait tapi tidak langsung bagian aksi utama; mengisi transisi atau konteks.

60.Cut-in Shot : Detail bagian tubuh/objek dalam adegan yang sama; memperkaya visual.

61.Cut-out Shot : Sebaliknya dari cut-in; perluasan ke lingkungan lebih luas.

62.Flashback Shot : Visual masa lalu karakter; pengembangan backstory.

63.Flashforward Shot : Visual masa depan; menciptakan antisipasi atau ironi dramatis.

64.Dream Sequence Shot : Visual tidak realistis (soft focus, warna distorsi); menunjukkan imajinasi/ketidaksadaran.

65.Montage Shot : Serangkaian shot cepat; menyampaikan periode waktu atau perkembangan.

66.Split Diopter Shot : Foreground dan background fokus bersamaan; kontras dua elemen dalam satu frame.

67.Rack Focus / Focus Pull : Pergantian fokus dari foreground ke background; mengalihkan perhatian penonton.

68.Shallow Focus : Hanya subjek yang fokus, latar blur; menonjolkan subjek utama.

69.Deep Focus : Seluruh lapisan frame fokus; memungkinkan aksi simultan di berbagai kedalaman.

70.Tilt-Shift Shot : Efek miniatur menggunakan lensa khusus; perspektif unik atau satir.

71.Macro Shot : Close-up ekstrem objek sangat kecil; menunjukkan detail tak terlihat mata telanjang.

72.Micro Shot : Menggunakan mikroskop; untuk ilmu pengetahuan atau efek abstrak.

73.Time-Lapse Shot : Frame diambil jarang lalu diputar cepat; menunjukkan perubahan lambat (awan, kota).

74.Slow Motion Shot : Frame rate tinggi diputar lambat; memperpanjang momen dramatis.

75.Fast Motion Shot : Frame rate rendah diputar normal; efek komedi atau kegelisahan.

76.Freeze Frame : Gambar dibekukan; penekanan pada momen penting atau akhir cerita.

77.Bullet Time : Kamera mengelilingi subjek yang "beku"; efek dramatis (contoh: The Matrix).

78.SnorriCam : Kamera terpasang di tubuh aktor menghadap wajahnya; disorientasi saat bergerak.

79.Fisheye Shot : Lensa ultra-wide distorsi; efek surealis atau perspektif ekstrem.

80.Anamorphic Shot : Lensa lebar dengan kompresi horizontal; estetika sinematik klasik.


Teknik Komposisi & Framing  

81.Rule of Thirds Shot : Subjek di titik pertemuan garis grid; komposisi seimbang secara visual.

82.Centered Shot : Subjek di tengah frame; simetri, kekuatan, atau ketegangan.

83.Leading Lines Shot : Garis dalam frame mengarah ke subjek; memandu mata penonton.

84.Frame Within Frame : Subjek dibingkai elemen lain (jendela, pintu); menambah kedalaman dan fokus.

85.Negative Space Shot : Ruang kosong dominan di sekitar subjek; kesan kesepian atau minimalis.

86.Dutch Angle Close-Up : Kombinasi dutch angle + close-up; intensitas psikologis ekstrem.

87.Silhouette Shot : Subjek gelap di depan cahaya terang; misteri atau simbolisme.

88.Backlight Shot : Cahaya dari belakang subjek; efek halo atau dramatisasi.

89.High-Key Shot : Pencahayaan terang merata; suasana ceria atau komedi.

90.Low-Key Shot : Kontras tinggi dengan bayangan dominan; suasana gelap, misterius, atau film noir.

91.Chiaroscuro Shot : Permainan cahaya dan bayangan ekstrem; estetika klasik Eropa.

92.Top Shot : Kamera tepat di atas meja/permukaan; untuk adegan makan atau permainan kartu.

93.Through-the-Lens Shot : Melihat melalui objek transparan (kaca, air); lapisan visual tambahan.

94.Reflection Shot : Subjek terlihat melalui pantulan (cermin, genangan); dualitas atau introspeksi.

95.Shadow Shot : Hanya bayangan yang terlihat; misteri atau ancaman tak terlihat.

96.Split Screen Shot : Dua adegan berbeda dalam satu frame; paralel naratif atau kontras.

97.Match Cut Shot : Transisi halus antar shot berdasarkan bentuk/gerakan; koneksi visual kreatif.

98.Jump Cut Shot : Potongan abrupt dalam satu aksi; efek dokumenter atau disorientasi waktu.

99.Wipe Shot : Transisi dengan elemen "menyapu" frame; gaya retro atau dinamis.

100.360-Degree Shot : Kamera berputar penuh mengelilingi subjek; penutup adegan epik atau pengungkapan total.

Catatan Penting:  

- Pemilihan sorotan harus selalu melayani cerita  , bukan sekadar gaya.

- Kombinasi berbagai sorotan menciptakan ritme visual yang dinamis.

- Konteks budaya dan genre memengaruhi interpretasi makna setiap sorotan.

Daftar ini mencakup teknik dasar hingga lanjutan yang digunakan sutradara sinematografi profesional untuk menyampaikan emosi, informasi, dan makna visual kepada penonton.

  • Deskripsi

    Tehnik Menggunakan Kamera, bagaimana cara sorot kamera yang benar,
  • Publisher

    Mod Art
  • Tag

    Kamera Tips Top 100